Rabu, 07 Agustus 2013

Makalah Anatomi Fisiologi Muskuloskeletal



BAB I
PENDAHULUAN

1.1        Latar Belakang
Baik disadari maupun tidak, tubuh manusia selalu melakukan gerak. Bahkan seseorang yang memiliki ketidaksempurnaan alat gerak pun tetap melakukan gerak. Saat tersenyum, mengedipkan mata, atau bernapas sesungguhnya telah terjadi gerak yang disebabkan oleh kontraksi otot. Dalam satu hari, banyak aktivitas yang kita lakukan, misalnya mandi, makan, berjalan, berlari, berolahraga, dan sebagainya. Manusia dapat melakukan segala macam aktivitas bergerak itu karena dia memiliki sistem organ gerak yaitu sistem muskuloskeletal..
Gerak adalah suatu tanggapan terhadap rangsangan baik dari dalam maupun dari luar. Gerak tidak terjadi begitu saja. Gerak terjadi melelui mekanisme yang rumit dan melibatkan banyak bagian tubuh.
Gerak pada manusia disebabkan oleh kontraksi otot yang menggerakkan tulang. Jadi, gerak merupakan kerjasama antara tulang dan otot. Maka dari itu, tubuh manusia terdapat sistem muskuloskeletal yang berperan dalam situasi tersebut. Muskuloskeletal terdiri dari otot dan tulang. Tulang sebagai alat gerak pasif karena hanya mengikuti kendali otot, sedangkan otot disebut alat gerak aktif karena mampu berkontraksi, sehingga mampu menggerakan tulang.


1.2         Tujuan Penulisan
1.2.1        Tujuan Umum
Membantu mahasiswa memahami tentang anatomi fisiologi sistem muskuloskeletal tubuh manusia.
1.2.2       Tujuan Khusus
a.    Mengetahui pengertian muskuloskeletal.
b.    Memahami tentang otot (muskular)
c.    Memahami tentang sistem rangka (skeletal)
d.   Mengetahui kelainan pada sistem muskuloskeletal

1.3        Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan makalah ini disusun sebagai berikut :
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I      PENDAHULUAN
I.1   Latar Belakang
I.2   Tujuan Penulisan
I.3   Sistematika Penulisan
BAB II    PEMBAHASAN
2.1    Pengertian
2.2    Otot (Muskulus / Muscle)
2.2.1   Fungsi Sistem Otot
2.2.2   Ciri-Ciri Sistem Otot
2.2.3   Jenis-Jenis Otot
2.2.4   Mekanisme Kontraksi Otot
2.3    Rangka (skeletal)
2.3.1   Fungsi Rangka
2.3.2   Jenis Tulang
2.3.3   Sel – Sel Penyusun Tulang
2.3.4   Organisasi Sistem Rangka
2.3.5   Pembentukan Tulang
2.3.6   Hubungan Antar Tulang
2.4    Kelainan Pada Sistem Muskuloskeletal
BAB III   PENUTUP
3.1  Kesimpulan
3.2  Saran                                                                                      
DAFTAR PUSTAKA




 
BAB II
PEMBAHASAN

2.1.      Pengertian
Muskuloskeletal terdiri dari kata Muskulo yang berarti otot dan kata Skeletal yang berarti tulang. Muskulo atau muskular adalah jaringan otot-otot tubuh. Ilmu yang mempelajari tentang muskulo atau jaringan otot-otot tubuh adalah Myologi. Skeletal atau osteo adalah tulang kerangka tubuh. Ilmu yang mempelajari tentang muskulo atau jaringan otot-otot tubuh adalah Osteologi.

2.2.      Otot ( Muskulus / Muscle )
Otot merupakan organ tubuh yang mempunyai kemampuan mengubah energi kimia menjadi energi mekanik/gerak sehingga dapat berkontraksi untuk menggerakkan rangka, sebagai respons tubuh terhadap perubahan lingkungan.
Otot disebut alat gerak aktif karena mampu berkontraksi, sehingga mampu menggerakan tulang. Semua sel-sel otot mempunyai kekhususan yaitu untuk berkontraksi.
Otot membentuk 40-50% berat badan; kira-kira1/3-nya merupakan protein tubuh dan  ½-nya tempat terjadinya aktivitas metabolik saat tubuh istirahat. Terdapat lebih dari 600 buah otot pada tubuh manusia. Sebagian besar otot-otot tersebut dilekatkan pada tulang-tulang kerangka tubuh, dan sebagian kecil ada yang melekat di bawah permukaan kulit.
Gabungan otot berbentuk kumparan dan terdiri dari :
1)   Fascia, adalah jaringan yang membungkus dan mengikat jaringan lunak. Fungsi fascia yaitu mengelilingi otot, menyedikan tempat tambahan otot, memungkinkan struktur bergerak satu sama lain dan menyediakan tempat peredaran darah dan saraf.
2)   Ventrikel (empal), merupakan bagian tengah yang mengembung.
3)   Tendon (urat otot), yaitu kedua ujung yang mengecil, tersusun dari jaringan ikat dan besrifat liat. Berdasarkan cara melekatnya pada tulang, tendon dibedakan sebagai berikut.
a)    Origo, merupakan tendon yang melekat pada tulang yang tidak berubah kedudukannya ketika otot berkontraksi.
b)   Inersio. Merupakan tendon yang melekat pada tulang yang bergerak ketika otot berkontraksi.

2.2.1        Fungsi Sistem Otot
·      Pergerakan
Otot menghasilkan gerakan pada tulang tempat otot tersebut melekat dan bergerak dalam bagian organ internal tubuh.
·      Penopang tubuh dan mempertahankan postur
Otot menopang rangka dan mempertahankan tubuh saat berada dalam posisi berdiri atau saat duduk terhadap gaya gravitasi.
·      Produksi panas
Kontraksi otot-otot secara metabolis menghasilkan panas untuk mepertahankan suhu tubuh normal.

2.2.2        Ciri-Ciri Sistem Otot
Otot memendek jika sedang berkontraksi dan memanjang jika sedang berelaksasi. Kontraksi otot terjadi jika otot sedang melakukan kegiatan. Relaksasi otot terjadi jika otot sedang beristirahat. Dengan demikian otot memiliki 3 karakter, yaitu:
·      Kontrakstilitas, yaitu serabut otot berkontraksi dan menegang, otot menjadi lebih pendek dari ukuran semula.
·      Ekstensibilitas, yaitu serabut otot memiliki kemampuan untuk menegang melebihi panjang otot saat rileks (memanjang).
·      Elastisitas, yaitu serabut otot dapat kembali ke ukuran semula setelah berkontraksi atau meregang.








2.2.3        Jenis-Jenis Otot
1)   Berdasarkan letak dan struktur selnya, dibedakan menjadi:
a.    Otot Rangka (Otot Lurik)
 Otot rangka merupakan otot lurik, volunter (secara sadar atas perintah dari otak), dan melekat pada rangka, misalnya yang terdapat pada otot paha, otot betis, otot dada. Kontraksinya sangat cepat dan kuat.
Struktur mikroskopis otot skelet/rangka yaitu Memiliki bentuk sel yang panjang seperti benang/filament. Setiap serabut memiliki banyak inti yang terletak di tepi dan tersusun di bagian perifer. Serabut otot sangat panjang, sampai 30 cm, berbentuk silindris dengan lebar berkisar antara 10 mikron sampai 100 mikron.
b.    Otot Polos
 Otot polos merupakan otot tidak berlurik dan involunter (bekerja secara tak sadar). Jenis otot ini dapat  ditemukan pada dinding berongga seperti kandung kemih dan uterus, serta pada dinding tuba, seperti pada sistem respiratorik, pencernaan, reproduksi, urinarius, dan sistem sirkulasi darah. Kontraksinya kuat dan lamban.
Struktur Mikroskopis Otot Polos  yaitu memiliki bentuk sel otot seperti silindris/gelendong dengan kedua ujung meruncing. Serabut sel ini berukuran kecil, berkisar antara 20 mikron (melapisi pembuluh darah). Memiliki satu buah inti sel yang terletak di tengah sel otot dan mempunyai permukaan sel otot yang polos dan halus/licin.
c.    Otot Jantung
 Otot Jantung juga otot serat lintang involunter, mempunyai struktur yang sama dengan otot lurik. Otot ini hanya terdapat pada jantung. Bekerja terus-menerus setiap saat tanpa henti, tapi otot jantung juga mempunyai masa istirahat, yaitu setiap kali berdenyut. Memilki banyak inti sel yang terletak di tepi agak ke tengah. Panjang sel berkisar antara 85-100 mikron dan diameternya sekitar 15 mikron.
2)   Berdasarkan gerakannya dibedakan  menjadi :
a.    Otot Antagonis, yaitu hubungan antarotot yang cara kerjanya bertolak belakang/tidak searah, menimbulkan gerak berlawanan. Contohnya:
·      Ekstensor (meluruskan) dengan fleksor (membengkokkan), misalnya otot bisep dan otot trisep.
·      Depressor (gerakan ke bawah) dengan elevator (gerakan ke atas), misalnya gerak kepala menunduk dan menengadah.
b.   Otot Sinergis, yaitu hubungan antar otot yang cara kerjanya saling mendukung/bekerjasama, menimbulkan gerakan searah. Contohnya pronator teres dan pronator kuadrus. (Marieb & Mallat 2001)
3)   Berdasarkan letaknya, otot dapat ditemukan diberbagai daerah bagian tubuh dengan nama-nama otot tertentu, dapat dilihat pada gambar berikut.

2.2.4        Mekanisme Kontraksi Otot
Dari hasil penelitian dan pengamatan dengan mikroskop elektron dan difraksi sinar X, Hansen dan Huxly (1995) mengemukakan teori kontraksi otot yang disebut model Sliding Filamens. Model ini menyatakan bahwa kontraksi terjadi berdasarkan adanya dua set filamen didalam sel otot kontraktil yang berupa filamen aktin dan miosin.
Ketika otot berkontraksi, aktin dan miosin bertautan dan saling menggelincir satu sama lain, sehingga sarkomer pun juga memendek.
Dalam otot terdapat zat yang sangat peka terhadap rangsang disebut asetilkolin. Otot yang terangsang menyebabkan asetilkolin terurai membentuk miogen yang merangsang pembentukan aktomiosin. Hal ini menyebabkan otot berkontraksi sehingga otot yang melekat pada tulang bergerak.
Saat berkontraksi, otot membutuhkan energi dan oksigen. Oksigen diberikan oleh darah, sedangkan energi diperoleh dari penguraian ATP (adenosin trifosfat) dan kreatinfosfat. ATP terurai menjadi ADP (adenosin difosfat) + Energi. Selanjutnya, ADP terurai menjadi AMP (adenosin monofosfat) + Energi. Kreatinfosfat terurai menjadi kreatin + fosfat + energi. Energienergi ini semua digunakan untuk kontraksi otot.

2.3.      Rangka (skeletal)
Sistem rangka adalah bagian tubuh yang terdiri dari tulang, sendi, dan tulang rawan (kartilago) sebagai tempat menempelnya otot dan memungkinkan tubuh untuk mempertahankan sikap dan posisi.
Tulang sebagai alat gerak pasif karena hanya mengikuti kendali otot. Akan tetapi tulang tetap mempunyai peranan penting karena gerak tidak akan terjadi tanpa tulang.
2.3.1   Fungsi Rangka
·      Penyangga; berdirinya tubuh, tempat melekatnya ligamen-ligamen, otot, jaringan lunak dan organ.
·      Penyimpanan mineral (kalsium dan fosfat) dan lipid (yellow marrow)
·      Produksi sel darah (red marrow)
·      Pelindung; membentuk rongga melindungi organ yang halus dan lunak.
·      Penggerak; dapat mengubah arah dan kekuatan otot rangka saat bergerak karena adanya persendian.
2.3.2   Jenis Tulang
a.    Berdasarkan jaringan penyusun dan sifat-sifat fisiknya, yaitu:
1)   Tulang Rawan (kartilago)
Ada 3 macam tulang rawan, yaitu:
·      Tulang Rawan Hyalin: kuat dan elastis terdapat pada ujung tulang pipa.
·      Tulang Rawan Fibrosa: memperdalam rongga dari cawan-cawan (tl. Panggul) dan rongga glenoid dari skapula.
·      Tulang Rawan Elastik: terdapat dalam daun     telinga, epiglotis dan faring.
2)   Tulang Sejati (osteon)
Tulang bersifat keras dan berfungsi menyusun berbagai sistem rangka. Permukaan luar tulang dilapisi selubung fibrosa (periosteum). Lapis tipis jaringan ikat (endosteum) melapisi rongga sumsum  dan meluas ke dalam kanalikuli tulang kompak.
Secara mikroskopis tulang terdiri dari :
·      Sistem Havers (saluran yang berisi serabut saraf, pembuluh darah, aliran limfe)
·      Lamella (lempeng tulang yang tersusun konsentris)
·      Lacuna (ruangan kecil yang terdapat di antara lempengan-lempengan yang mengandung sel tulang)
·      Kanalikuli (memancar di antara lacuna dan tempat difusi makanan sampai ke osteon)
b.    Berdasarkan matriksnya, yaitu:
1)   Tulang kompak, yaitu tulang dengan matriks yang padat dan rapat.
2)   Tulang Spons, yaitu tulang dengan matriksnya berongga.
c.    Berdasarkan bentuknya, yaitu:
1)   Ossa longa (tulang pipa/panjang), yaitu tulang yang ukuran panjangnya terbesar. Contohnya os humerus dan os femur.
2)   Ossa brevia (tulang pendek), yaitu tulang yang ukurannya pendek. Contohnya tulang yang terdapat pada pangkal kaki, pangkal lengan, dan ruas-ruas tulang belakang.
3)   Ossa plana (tulang pipih), yaitu tulang yang ukurannya lebar. Contohnya os scapula (tengkorak), tulang belikat, tulang rusuk.
4)   Ossa irregular (tulang tak beraturan), yaitu tulang dengan bentuk yang tak tentu. Contohnya os vertebrae (tulang belakang).
5)   Ossa pneumatica (tulang berongga udara). Contohnya os maxilla.

2.3.3   Sel – Sel Penyusun Tulang
a.    Osteobast, merupakan sel tulang muda yang menghasilkan jaringan osteosit dan mengkresikan fosfatase dalam pengendapan kalsium dan fosfat ke dalam matriks tulang.
b.    Osteosit, yaitu sel- sel tulang dewasa yang bertindak sebagai lintasan untuk pertukaran kimiawi melaui tulang yang padat.
c.    Osteoclast, yaitu sel-sel yang dapat mengabsorbsi mineral dan matriks tulang.

2.3.4   Organisasi Sistem Rangka
Sistem skeletal dibentuk oleh 206 buah tulang yang membentuk suatu kerangka tubuh. Rangka digolongkan kedalam tiga bagian sebagai berikut.
1)        Rangka Aksial
Rangka Aksial terdiri dari 80 tulang yang membentuk aksis panjang tubuh dan melindungi organ-organ pada kepala, leher, dan dada.
a.    Tengkorak (cranium), yaitu tulang yang tersusun dari 22 tulang; 8 tulang kranial dan 14 tulang fasial.
o  Tulang kranial membungkus dan melindungi otak, terdiri dari:
­   Tulang baji (sfenoid)                           : 1 buah
­   Tulang tapis (etmoid)                          : 1 buah
­   Tulang pelipis (temporal)                    : 2 buah
­   Tulang dahi (frontal)                           : 1 buah
­   Tulang ubun-ubun (parietal)              : 2 buah
­   Tulang kepala belakang (oksipital)     : 1 buah
o  Tulang fasial membentuk wajah, terdiri dari:
­   Tulang rahang atas (maksila)              : 2 buah
­   Tulang rahang bawah (mandibula)     : 2 buah
­   Tulang pipi (zigomatikus)                   : 2 buah
­   Tulang langit-langit (palatinum)          : 2 buah
­   Tulang hidung (nasale)                       : 2 buah
­   Tulang mata (lakrimalis)                     : 2 buah
­   Tulang pangkal lidah (Konka inferor) : 1 buah
b.    Tulang Pendengaran (Auditory), terdiri dari:
­   Tulang martil (maleus)                        : 2 buah
­   Tulang landasan (inkus)                      : 2 buah
­   Tulang sanggurdi (stapes)                   : 2 buah
c.    Tulang Hioid, yaitu tulang yang berbentuk huruf U, terdapat diantara laring dan mandibula, berfungsi sebagai pelekatan beberapa otot mulut dan lidah.       : 1 buah
d.   Tulang Belakang (vertebra), berfungsi menyangga berat tubuh dan memungkinkan manusia melakukan berbagai macam posisi dan gerakan, misalnya berdiri, duduk, atau berlari. Tulang belakang berjumlah 26 buah yang terdiri dari:
 


­   Tulang leher (servikal)              : 7 buah
­   Tulang punggung (dorsalis)       : 12 buah
­   Tulang pinggang (lumbal)          : 5 buah
­   Tulang kelangkang  (sakrum)    : 1 buah
­   Tulang ekor (koksigea)             
4 ruas berfusi menjadi satu       : 1 buah


e.    Tulang Iga/Rusuk (costae), yaitu tulang yang bersama-sama dengan tulang dada membentuk perisai pelindung bagi organ-organ penting yang terdapat di dada, seperti paru-paru dan jantung. Tulang rusuk juga berhubungan dengan tulang belakang, berjumlah 12 ruas, terdiri dari:
­   Tulang Rusuk Sejati (costae vera)     : 7 pasang
­   Tulang Rusuk Palsu (costae spuria)   : 3 pasang
­   Rusuk Melayang (costae fliktuantes) : 2 pasang
f.     Tulang Dada (sternum) terdiri atas tulang-tulang yang berbentuk pipih, antara lain:
­   Tulang hulu (manubrium)                  : 1 buah
­   Tulang badan (gladiolus)                   : 1 buah
­   Tulang bahu pedang (sifoid)              : 1 buah
(ketiganya bergabung menjadi satu buah  tulang dada)

2)        Rangka Apendikular
Rangka apendikuler merupakan rangka yang tersusun dari tulang-tulang bahu, tulang panggul, dan tulang anggota gerak atas dan bawah terdiri atas 126 tulang.
Secara umum rangka apendikular menyusun alat gerak, tangan dan kaki. Tulang rangka apendikular dibagi kedalam 2 bagian, yaitu :
(1)  Ektremitas Atas, yaitu terdiri dari tulang bahu dan tulang anggota gerak  atas.
a.    Tulang bahu, terdiri atas dua bagian:
­  Tulang belikat (skapula)                     : 2 buah
­  Tulang selangka (klavikula)                : 2 buah
b.    Tulang anggota gerak atas, terdiri dari:
­  Tulang lengan atas (humerus)             : 2 buah
­  Tulang hasta (ulna)                             : 2 buah
­  Tulang pengumpil (radius)                 : 2 buah
­  Tulang pergelangan tangan (karpal)    : 16 buah (8 pada tiap tangan)
­  Tulang tapak tangan (metakarpal)      : 10 buah (5 pada tiap tangan)
­  Tulang jari-jari (phalanges)                : 28 buah (2 kali 14 ruas jari)
(2)  Ektremitas Bawah, yaitu terdiri dari tulang panggul dan tulang anggota gerak  bawah.
a.    Tulang panggul (pelvis), terdiri atas tiga bagian:
­  Tulang usus (ileum)                            : 2 buah
­  Tulang duduk (iskhium)                      : 2 buah
­  Tulang kemaluan (pubis)                    : 2 buah
b.    Tulang anggota gerak bawah, terdiri dari:
­  Tulang paha (femur)                           : 2 buah
­  Tulang tempurung lutut (patela)         : 2 buah
­  Tulang betis (fibula)                            : 2 buah
­  Tulang kering (tibia)                           : 2 buah
­  Tulang pergelangan kaki (tarsal)        : 14 buah (7 pada tiap kaki)
­  Tulang tapak kaki (metatarsal)          : 10 buah (5 pada tiap kaki)
­  Tulang jari kaki (phalanges)               : 28 buah (2 kali 14 ruas jari)

2.3.5   Pembentukan Tulang
Proses pembentukan tulang telah bermula sejak umur embrio 6-7 minggu dan berlangsung sampai dewasa. Pada rangka manusia, rangka yang pertama kali terbentuk adalah tulang rawan (kartilago) yang berasal dari jaringan mesenkim. Kemudian akan terbentuk osteoblas atau sel-sel pembentuk tulang. Osteoblas ini akan mengisi rongga-rongga tulang rawan.
 Sel-sel tulang dibentuk terutama dari arah dalam keluar, atau proses pembentukannya konsentris. Setiap satuan-satuan sel tulang mengelilingi suatu pembuluh darah dan saraf membentuk suatu sistem yang disebut sistem Havers.
Disekeliling sel-sel tulang terbentuk senyawa protein yang akan menjadi matriks tulang. Kelak didalam senyawa protein ini terdapat pula kapur dan fosfor sehingga matriks tulang akan mengeras. Proses ini disebut osifikasi.

2.3.6   Hubungan Antar Tulang
Hubungan antartulang disebut artikulasi. Agar artikulasi dapat bergerak, diperlukan struktur khusus yang disebut sendi. Sendi yang menyusun kerangka manusia terdapat di beberapa tempat.
Terdapat tiga jenis hubungan antartulang, yaitu:
1)   Sinartrosis
Sinartrosis disebut juga dengan sendi mati, yaitu hubungan antara dua tulang yang tidak dapat digerakkan sama sekali. Artikulasi ini tidak memiliki celah sendi dan dihubungkan dengan jaringan serabut. Dijumpai pada hubungan tulang pada tulang-tulang tengkorak yang disebut sutura/suture.
2)   Amfiartosis
Amfiartosis disebut juga dengan sendi kaku, yaitu hubungan antara dua tulang  yang dapat digerakkan secara terbatas. Artikulasi ini dihubungkan dengan kartilago.  Dijumpai pada hubungan ruas-ruas tulang belakang, tulang rusuk dengan tulang belakang.
3)   Diartosis
Diartosis disebut juga dengan sendi hidup, yaitu hubungan antara dua tulang  yang  dapat digerakkan secara leluasa atau tidak terbatas. Untuk melindungi bagian ujung-ujung tulang sendi, di daerah persendian terdapat rongga yang berisi minyak sendi/cairan synovial yang berfunggsi sebagai pelumas sendi.
Diartosis dapat dibedakan menjadi:
a.   Sendi Engsel
Sendi engsel yaitu hubungan antar tulang yang memungkinkan gerakan hanya satu arah saja. Dijumpai pada hubungan tulang Os. Humerus dengan Os. Ulna dan Os. Radius/sendi pada siku, hubungan antar Os. Femur dengan Os. Tibia dan Os. Fibula/sendi pada lutut.
b.   Sendi Putar
Sendi putar yaitu hubungan antar tulang yang memungkinkan salah satu tulang berputar terhadap tulang yang lain sebagai porosnya. Dijumpai pada hubungan antara Os. Humerus dengan Os. Ulna dan Os. Radius, hubungan antar Os. Atlas dengan Os. Cranium.
c.    Sendi Pelana/Sendi Sellaris
Sendi pelana yaitu hubungan antar tulang yang memungkinkan gerakan ke segala arah/gerakan bebas. Dijumpai pada hubungan Os. Scapula dengan Os. Humerus, hubungan antara Os. Femur dengan Os. Pelvis virilis.
d.   Sendi Kondiloid atau Elipsoid
Sendi Kondiloid yaitu hubungan antar tulang yang memungkinkan gerakan berporos dua, dengan gerak ke kiri dan ke kanan; gerakan maju dan mundur; gerakan muka/depan dan belakang.  Ujung tulang yang satu berbentuk oval dan masuk ke dalam suatu lekuk yang berbentuk elips. Dijumpai pada hubungan Os. Radius dengan Os. Carpal.
e.    Sendi Peluru
Sendi peluru yaitu hubungan antar tulang yang memungkinkan gerakan ke segala arah/gerakan bebas. Dijumpai pada hubungan Os. Scapula dengan Os. Humerus, hubungan antara Os. Femur dengan Os. Pelvis virilis.

f.    Sendi Luncur
Sendi luncur yaitu hubungan antar tulang yang memungkinkan gerakan badan melengkung ke depan (membungkuk) dan ke belakang serta gerakan memutar (menggeliat). Hubungan ini dapat terjadi pada hubungan antarruas tulang belakang, persendian antara pergelangan tangan dan tulang pengumpil.

2.4.      Kelainan Pada Sistem Muskuloskeletal
Beberapa gangguan kesehatan dan kelainan yang terjadi sistem muskuloskeletal adalah sebagai berikut.
1)      Fraktura /patah tulang
Pada kelainan tulang ini, tulang mengalami retak/patah tulang akibat mengalami benturan keras, misalnya karena kecelakaan. Pemulihan untuk kelainan ini, yaitu dengan mengembalikan pada susunan semula secepat mungkin. Pada kasus patah tulang, untuk menyambungkannya ditambahkan pen atau platina. Setelah tulang mengalami pertumbuhan dan menyatu, pen/platina akan diambil kembali.
2)      Fisura/retak tulang
Fisura yaitu kelainan tulang yang  menimbulkan keretakan pada tulang.
3)      Gangguan yang Terjadi pada Tulang Belakang
Gangguan ini disebabkan karena kebiasaan tubuh yang salah, kelainan ini antara lain seperti berikut.
a)    b)     c)
a.    Lordosis, yaitu keadaan tulang belakang yang melengkung ke depan.
b.    Kifosis, adalah keadaan tulang belakang melengkung ke belakang, sehingga badan terlihat bongkok.
c.    Skoliosis, yaitu keadaan tulang belakang melengkung ke samping kiri atau kanan.

4)      Osteoporosis
Orang yang menderita kelainan ini, keadaan tulangnya akan rapuh dan keropos. Ini disebabkan karena berkurangnya kadar kalsium dalam tulang. Seiring dengan bertambahnya usia seseorang, maka kadar kalsium akan berkurang sedikit demi sedikit.
5)      Rakhitis
Penyakit ini menyebabkan kondisi tulang seseorang yang lunak. Hal ini disebabkan dalam tubuh seseorang kekurangan vitamin D. Vitamin ini berfungsi untuk mengabsorpsi fosfor dan berperan dalam metabolisme kalsium. Penderita ini disarankan banyak mengkonsumsi telur, susu, dan minyak hati ikan. Selain itu, pada pagi hari, penderita disarankan berjemur di bawah sinar matahari karena sinar matahari pagi dapat membantu pembentukan vitamin D dalam tubuh.
6)      Kram
Kram merupakan keadaan otot berada dalam keadaan kejang. Keadaan ini antara lain disebabkan karena terlalu lamanya aktivitas otot secara terus menerus.
7)      Hipertropi
Suatu keadaan otot yang lebih besar dan lebih kuat. Hal ini disebabkan karena otot sering dilatih bekerja dan berolahraga. Hipertrofi otot ini sering dimiliki oleh atlet binaragawan.
8)      Atrofi
Keadaan otot yang lebih kecil dan lemah kontraksinya. Kelainan ini disebabkan karena infeksi virus polio. Pemulihannya dengan pemberian latihan otot, pemberian stimulant listrik, atau dipijat dengan teknik tertentu.


BAB III
PENUTUP

3.1         Kesimpulan
Muskuloskeletal adalah suatu sistem pada tubuh manusia yang meliputi sistem gerak yang terdiri dari otot dan tulang. Otot merupakan organ tubuh yang mempunyai kemampuan berkontraksi untuk menggerakkan rangka. Sistem rangka adalah bagian tubuh yang terdiri dari tulang, sendi, dan tulang rawan (kartilago) sebagai tempat menempelnya otot dan memungkinkan tubuh untuk mempertahankan sikap dan posisi.
Otot merupakan alat gerak pasif dan memiliki karakteristik, antara lain kontraktibilitas, ekstensibilitas, dan elastisitas. Berdasarkan perlekatannya, otot terdiri atas origo dan insersi. Jenis-jenis otot antara lain yaitu otot lurik, otot polos, dan otot jantung.
Tulang dibedakan menjadi skeleton aksial dan skeleton apendikuler. Skeleton aksial terdiri atas tulang-tulang tengkorak, ruas tulang belakang, tulang iga atau rusuk, dan tulang dada, sedangkan skeleton apendikuler terdiri atas tulang pinggul, bahu, lengan, telapak tangan, tungkai dan telapak kaki. Berdasarkan jenisnya, tulang dibedakan menjadi 2, yaitu tulang rawan dan tulang sejati. Tulang sejati, dilihat dari matriksnya terdiri atas tulang kompak dan tulang spons. Berdasarkan bentuknya, tulang dibedakan menjadi 3, yaitu tulang pipa, tulang pipih, dan tulang pendek. Hubungan antartulang disebut persendian atau artikulasi. Sendi dibedakan menjadi 3, yaitu amfiartrosis, sinartrosis, dan diartrosis.

3.2         Saran
·           Pentingnya pengetahuan mengenai sistem muskuloskeletal sehingga diharapkan mahasiswa lebih mendalami pemahaman tentang anatomi fisiologi sistem muskuloskeletal.
·           Dari berbagai teori anatomi fisiologi sistem muskuloskeletal tentang berbagai macam penyakit yang berhubungan dengan sistem tersebut diharapkan mahasiswa mampu memberikan tindakan keperawatan dengan tepat.
·           Dengan memahami anatomi fisiologi sistem muskuloskeletal, mahasiswa diharapkan mampu melaksanakan pelayanan keperawatan dengan baik.


DAFTAR PUSTAKA

Pratiwi, D.A. 2000. Buku Penuntun Biologi untuk SMU kelas 2. Jakarta. Penerbit Erlangga.
Ethel, Sloane. 2004. Anatomi dan Fisiologi Untuk Pemula. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC
Lewis, Heitkemper & Dirksen. 2000. Medical Surgical Nursing. Mosby. Philadelphia.

http://www.medicastore.com/alovell/isi.php?isi=tulang, 01/12/2011, 12.15 WIB.








Tidak ada komentar:

Poskan Komentar